Sejarah DPRD

SEJARAH

Asal Nama Gresik

Menurut Banun Mansur, Gresik dalam Bahasa Arab berasal dari kata “QARRA-SYAIK,” berarti Tancapkan sesuatu. Kalimat ini terucap ketika seorang nahkoda kapal memerintahkan pada anak buahnya untuk menancapkan Jangkar sebagai tanda kapal telah berlabuh.

Ada juga yang menyebut Gresik sebelumnya bernama “Gerwarase”. Nama ini terkenal hingga tahun 1720 M.

Gresik juga pernah dikenal dengan nama Tandes. Nama Tandes dalam kesusastraan Jawa memang dipakai untuk menyebut Gresik sebagai istilah pengganti. Nama ini terukir pada sebuah batu berbentuk lingga, di depan makam Tumenggung Poesponegoro (bupati Gresik terdahulu). Inskripsi itu ditulis dalam bahasa Jawa Madya, yang berbunyi:

“Puniko wewangun hing Kanjeng Tumenggung Poesponegoro hing negri Tandes, hisakala sami adirasa tunggal masaluhu tanggala titi.”

Artinya:
“Ini adalah bangunan persembahan Kanjeng Tumenggung Poesponegoro di negeri Tandes (Candrasengkala memet yang berarti tahun Saka 1617), Tuhan Allah Yang Maha Tinggi.”

Dicerita menurut bangsa Cina yang pernah mendarat di Gresik pada awal abad ke-15 M, mulanya menyebut Gresik dengan nama “T’Se T’sun” artinya perkampungan kotor, beberapa tahun kemudian berubah sebutan menjadi “T’sin T’sun,” berarti Kota Baru.

Kota Gresik yang kita kenal saat ini merupakan ibukota Kabupaten Gresik, Jawa timur yang diresmikan 27 Februari 1975 dengan Peraturan Pemerintah RI. No. 38 Tahun 1974, Lembaran Negara No. 152 tahun 1974.

 

Sejarah Gresik

Dalam agresi militer I pihak Belanda telah Melaggar Perjanjian Linggarjati dan mulai melancarkan aksi untuk melakukan penyerangan kembali. Belanda menuju wilayah Surabaya, Madura dan kemudian pada tangal 5 Agustus 1947 kota Gresik jatuh ke tangan Belanda. Pada tanggal 17 Januari 2948 tercapainya persetujuan CEASE FIRE dan persetujuan politik di Kapal Renville. Pertahanan yang kuat di Surabaya ialah kota Gresik.

Pada tanggal 11 September 1948, Belanda menyatakan kepda komisi tiga Negara bahwa tidak ingin berunding dengan RI.  Pada tanggal 19 Desember 2948 pecahlah Agresi Militer II dengan berhasil direbutnya RI Yogyakarta oleh Belanda.

Perang trus berlanjut mulai arah Surabaya, Lamongan, Tuban dan Gresik. Pertempuran yang berlangsung cukup lama dan melelahkan, maka dicetuskan untuk upaya diplomasi yakni dengan mengadakan Konfrensi Meja Bundar (KMB). Hasil KMB terciptanya Piagam penyerrahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat.

Gresik yang ada sejak abad ke 11, menjadi pusat perdagangan tidak saja antar pulau, tetapi sudah meluas keberbagaian Negara. Sehingga banyak dikunjungi saudagar dari Cina, Arab, Gujarat, Kalkuta, Siam, Bengali, Campa dan lain-lain.

Pada abad XIV Gresik yang saat itu dibawah kekuasaan Majapahit dijadikan Kota Pelabuhan dengan mengangkat Nyai Ageng Pinatih sebagai syabanda. Syahdan ada seorang bayi asal Blambangan (Kabupaten Banyuwangi) yang di  buang ke laut oleh orang tuanya, dan di temukan anak buah Nyai Ageng Pinatih. Bayi ( Ainul Yakin) kemudian diberi nama Jaka Samudra. Setelah perjaka bergekegar Raden Paku dan Menjadi penguasa pemerintah yang berpusatdi Giri Kedaton dari tempat inilah beliau kemudian dikenal dengan panggilan Sunan Giri.

Sedangkan Syeh Maulana Malik Ibrahim pada jamanya di anggap sebagai para penguasa, tiang para raja dan menteri. Sunan Giri dikenal menjadi salah satu tokoh wali songo juga dikenal juga Prabu Satmoto atau Sultan Ainul Yaqin. Tahun dimana beliau dinobatkan sebagai pengusaha pemerintahan pada 1487 M, ahkirnya dijadikan sebagai hari lahirnya Kabupaten Gresik.

Bupati pertama adalah Kyai Ngabehi Tumenggung Poesponegoro pada tahun 1617 saka, yang jasadnya dimakamkan di komplek makam Poesponegoro di jalan pahlawan Gresik, satu komplek dengan makam Syech Maulana Malik Ibrahim.

Semula Kabupaten ini bernama Kabupaten Surabaya. Memasuki dilaksankannya PP Nomor 38 Tahun 1974. Seluruh kegiatan pemerintah mulai berangsur-angsur dipindahkan ke Gresik dan namanya kemudian berganti dengan Kabupaten Daerah Tingkat II Gresik dengan pusat kegiatan di Kota Gresik.

Kabupaten Gresik yang merupakan sub Wilayah Pengembangan sebagai (SWPB) tidak terlepas dari kegiatan sub Wilayah pengembangan Gerbang Kertasusila (Gresik, Bangkalam, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan). Termasuk satu bagaian dari 9 sub wilayah pengembangan Jawa TImur.

Kota Gresik terkenal sebagai kota wali, hal ini ditandai dengan penggalian sejarah yang berkenaan dengan peranan dan keberadaan para wali yang makamnya di Kabupaten Gresik yaitu, Sunan Giri dan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Di samping itu, Kota Gresik juga bisa disebut dengan Kota Santri, karena keberadaan pondok-pondok pesantren dan sekolah yang bernuansa Islami, yaitu Madrasah Ibtida’iyah, Tsanawiyah, dan Aliyah hingga Perguruan Tinggi yang cukup banyak di kota ini. Hasil Kerajinan yang bernuansa Islam juga dihasilkan oleh masyarakat Kota Gresik, misalnya kopyah, sarung, mukenah, sorban dan lain-lain.